Beranda » Serba-serbi » Batu Kuya Bogor Dicuri

Batu Kuya Bogor Dicuri

BOGOR – Batu Kuya yang dicuri dari tempat asalnya di kawasan Hutan Lindung Haur
Bentes Desa Pasirmadang Kecamatan Sukajaya ternyata bernilai miliaran. Tak
tanggung-tanggung, batu langka tersebut dijual Rp4 miliar kepada kolektor dari
Korea.

batu kuya bogor

batu kuya bogor

Demikian data yang didapat Radar Bogor dari Profesor Uka Tjandrasasmita yang
bersama timnya sudah menelusuri bisnis benda unik dan bernilai tinggi itu.
Selain itu, saking tingginya nilai jual batu tersebut, para pemburu Batu Kuya
menghabiskan Rp300 juta untuk membangun jalan menuju lokasi.

Menurut Uka, sangat tidak masuk akal batu yang dibawa dengan truk kontainer itu
tidak memiliki nilai sejarah. Batu yang diperkirakan seberat 50 ton itu dijual
dengan harga tinggi sekitar Rp4 miliar oleh oknum penjualnya. Bahkan, untuk
mengangkutnya saja penjual harus membuka jalan terlebih dulu dengan dana yang
mencapai Rp300 juta.

Dari konteks sejarah, Uka melihat kawasan hutan lindung di barat Kabupaten Bogor
itu masih bertebaran situs-situs sejarah peninggalan Kerajaan Tarumanegara
pimpinan Raja Purnawarman. Kerajaan Tarumanegara adalah salah satu kerajaan
tertua di Indonesia dan terkuat di Jawa Barat serta berkembang sekitar abad V
Masehi. “Jumlah situs di sana masih sangat banyak dan belum semuanya
teridentifikasi,” ujarnya.

Uka mengatakan, binatang kura-kura bagi Raja Purnawarman merupakan binatang
suci. Atau bisa juga merupakan jelmaan dari Dewa Wishnu. “Dewa Wishnu adalah
dewa tertinggi yang disembah Purnawarman. Purnawarman sendiri adalah penganut
Hindu Wishnu. Dia memerintahkan masyarakat menyembah Dewa Wishnu. Jadi, bisa
dipastikan bahwa Batu Kuya itu peninggalan Kerajaan Tarumanegara,” beber pria
yang pernah menjabat Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan
Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1980 ini.

Kalaupun bukan berasal dari zaman kerajaan Tarumanegara, Uka menilai Batu Kuya
itu pasti memiliki sejarah. “Bisa saja batu itu berasal dari zaman Megalitikum
(zaman batu besar-satu fase zaman pra sejarah, red), karena bentuknya sangat
halus. Saya tidak yakin jika batu itu dibentuk alam. Itu pasti diukir manusia,”
tegasnya.

Untuk itu, Uka meminta aparat kepolisian mengusut siapa penjual yang sudah
menginjak-injak sejarah sendiri demi uang. Oknum penjual pun bisa terjerat UU
No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Dalam Pasal 26 UU tersebut dikatakan siapa pun yang dengan sengaja membawa,
memindahkan, mengambil tanpa izin benda cagar budaya akan diancam kurungan
sebanyak-banyaknya 10 tahun penjara. Dalam Pasal 12 disebutkan, setiap orang
dilarang mencari benda cagar budaya atau benda berharga yang tidak diketahui
pemiliknya dengan cara penggalian, penyelaman, pengangkatan, atau dengan cara
pencarian lainnya, tanpa izin dari pemerintah.

“Apalagi pengambilan Batu Kuya itu terbukti tanpa izin dan akan dibawa ke luar
negeri,” imbuh Uka.

Sementara itu, Rositi yang mewakili Depbudpar mengatakan, sudah bukan kewenangan
lembaganya menindaklanjuti masalah Batu Kuya. “Kewenangan saat ini ada di tangan
pemerintah setempat (Pemkab Bogor, red). Apakah mereka akan mengusutnya lebih
lanjut atau tidak,” ujarnya.

Kepala Subdirektorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
(Depbudpar) itu mengatakan, batu itu bukan situs melainkan batu alam biasa dan
bukan merupakan buatan manusia.

“Setelah tim kami meneliti, tidak ada jejak bahwa batu itu peninggalan sejarah
kerajaan. Batu itu hanya batu biasa yang bentuknya mirip kura-kura,” kata Rositi
saat dihubungi Radar Bogor, kemarin.

Dewan Minta Perhutani Lapor Polisi

Sementara itu, reaksi keras soal raibnya Batu Kuya dan kini diketahui berada di
Jakarta, muncul dari kalangan anggota DPRD Kabupaten Bogor. Para wakil rakyat
yang saat ini sedang sibuk jelang Pilbup Bogor putaran II itu menyayangkan
kurang aktifnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor
dalam melestarikan benda cagar budaya.

Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Bogor Wawan Risdiawan meminta pihak berwenang
segera mengusut dan menyelidiki siapa di balik penjualannya. Di masyarakat
sekitar TKP mencuat ada dugaan oknum anggota dewan yang berada di balik batu
dengan berat 50 ton itu. “Pokoknya, siapa pun yang terlibat kepolisian harus
bisa mengungkapnya,” tegas Wawan kepada Radar Bogor.

Sedangkan anggota dewan dari Komisi A Hidayat Royani mengatakan, Disbudpar harus
mengambil langkah cepat dan berkoordinasi dengan Departemen Kebudayaan dan
Pariwisata (Depbudpar). Selain itu, Hidayat juga merasa Departemen Kehutanan
dirugikan karena lokasi Batu Kuya berada di kawasan hutan lindung milik
Perhutani.

“Jika benda itu bukan benda cagar budaya, saya harap Perhutani melaporkan ke
pihak berwajib sebagai tindak pencurian karena penjual tidak meminta izin
terlebih dulu pada Perhutani,” kata Hidayat. Politisi muda itu menambahkan,
langkah Perhutani melaporkan ke polisi merupakan langkah yang baik agar
masyarakat tidak sembarangan mengambil barang-barang milik negara.

Informasi Disbudpar Kabupaten Bogor, hilangnya Batu Kuya sebenarnya sudah
dilaporkan ke Polres Bogor dengan laporan sebagai benda purbakala yang hilang.
Namun karena hasil penelitian Depbudpar bahwa batu itu bukan benda purbakala,
kepolisian tidak bisa menindaklanjutinya.

“Saya pikir kepolisian harus menindaklanjutinya. Perkara itu benda cagar budaya
atau bukan, yang namanya pencurian harus diusut,” tambah politisi dari Golkar
itu. Apalagi diketahui bahwa proses pengembalian batu itu harus merusak hutan
untuk sekadar membuat jalan masuk truk kontainer pembawa batu tersebut.

Polres Siap Usut

Kasat Reskrim Polres Bogor AKP M Santoso kepada Radar Bogor membenarkan perihal
pengawalan Batu Kuya. Pihaknya juga siap mengusut tuntas bila ada kepastian
mengenai status Batu Kuya.

Mengenai pengawalan yang dilakukan kepolisian saat pengangkutan batu dari
lokasinya, Santoso menjelaskan, pengawalan dilakukan atas inisiatif anggota dan
tujuannya tidak mengganggu lalulintas. Saat pengawalan, petugas tidak mengetahui
bahwa itu benda purbakala.

“Benar. Di jalan memang ada pengawalan yang dilakukan petugas kepolisian, tapi
itu hanya inisiatif anggota. Sebab, sebelumnya tidak ada permintaan resmi dari
pemilik batu ke Polres Bogor untuk dikawal kepolisian,” katanya.

Menurut Santoso, Polres Bogor siap memproses kasus itu jika hasil penelitian
benar-benar purbakala. Namun kini belum ada alat bukti permulaan yang bisa
digunakan kepolisian untuk melakukan penyelidikan.

Sesuai UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, lanjut dia, setiap orang
yang menemukan atau mengetahui benda tersebut wajib melapor kepada pemerintah.
Jika tidak, orang yang bersangkutan akan dikenakan hukuman sesuai ketentuan yang
berlaku.

(RADAR BOGOR)

http://www.radar-bogor.co.id/?ar_id=MTk0MTk=&click=MTEz

related link :

http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/27/23124455/situs.purbakala.batu.kuya.hilang

sumber : ilovebogor.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s